Rabu, 01 Oktober 2014

IDUL ADHA, Antara Melihat Hilal ataukah Berdasarkan Wuquf Jama'ah Haji?



MASJID BABUSSALAM - Bulan ini sudah memasuki bulan Dzulhijjah, dimana umat Islam seluruh dunia sedang melaksanakan ibadah yang sangat mulia sekaligus rukun Islam kelima yakni haji. Terkait dengan bulan Dzulhijjah, atau bulan Haji ini, tentu seluruh umat Islam seantero bumi juga akan menyambut datangnya hari raya Idul Adha.

Seperti dilansir dari JPNN, pemerintah akhirnya memutuskan Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijah) 1435 H jatuh pada Minggu, 5 Oktober. Keputusan ini diambil setelah digelar sidang isbat yang mengumpulkan hasil rukyah (pemantauan) hilal di 70 titik seluruh Indonesia. Hasil pemantauan dinyatakan hilal tidak terlihat.

Sidang isbat yang telah dilakukan oleh pemerintah beserta tokoh-tokoh ulama dari berbagai organisasi keagamaan pun berlangsung cukup lama. Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar mengakui bahwa sidang isbat penetapan 1 Dzulhijah yang dilakukan pada 26 September yang lalu berlangsung lebih lama dibandingkan sidang isbat penetapan 1 Ramadan atau 1 Syawal lalu.

Meskipun pemerintah telah mengeluarkan keputusan bahwa Idul Adha jatuh pada 5 Oktober, namun sepertinya pelaksanaannya tak akan serentak. Sebelumnya, organisasi islam Muhammadiyah sudah mengeluarkan maklumat penetapan hari-hari besar Islam. Dimana Idul Adha ditetapkan jatuh pada Sabtu, 4 Oktober.


 Terkait dengan perbedaan penetapan Idul Adha, Nasaruddin seperti dituliskan JPNN menjelaskan implikasinya tidak sebesar atau serumit ketika ada perbedaan awal Ramadan atau Idul Fitri. Meskipun begitu, Nasaruddin mengakui masyarakat muslim Indonesia mengidamkan adanya kekompakan. Termasuk ketika ada penetapan hari-hari besar agama Islam.

Namun Nasaruddin menambahkan, dampak perbedaan penetapan Idul Adha yang berpotensi menimbulkan polemik adalah penetapan yaumil arafah atau hari jamaah haji wukuf di padang Arafah. Pemerintah Arab Saudi sudah menetapkan bahwa yaumil arafah jatuh pada Jumat, 3 Oktober. Pada saat itu, umat Islam yang tidak berhaji disunahkan melaksanakan puasa Arafah.

Kalau merujuk pada ketetapan pemerintah, yakni Idul Adha jatuh pada 5 Oktober, maka puasa Arafah-nya jatuh pada Sabtu, 4 Oktober. Saat disambungkan dengan kondisi di Arab Saudi, jamaah haji di sana pada 4 Oktober sudah menjalankan Idul Adha. Sehingga puasa Arafah yang umumnya dilaksanakan ketika jamaah haji menjalankan wukuf, tidak cocok lagi.

Namun, Nasaruddin juga menjlaskan kondisi Saudi dan Indonesia tentu tidak bisa disamakan dalam penetapan sidang isbat. Dia menjelaskan, Indonesia sudah tergabung dalam komunitas Majelis Agama Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia (MABIM).

Menurutnya, dalam komunitas ini, disepakati bahwa penetapan bulan baru dalam kalender Islam merujuk pada sistem imkanur rukyah. Dalam sistem ini, dikatakan sudah berganti bulan jika posisi hilal minimal 2 derajat di atas ufuk. Sedangkan kondisi tadi malam, posisi hilal masih sekitar 0,63 derajat di atas ufuk.

Karena saat pengamatan 24 September kemarin posisi hilal tidak sampai 2 derajat di atas ufuk, maka diambil kebijakan isti”mal. Yaitu menggenapkan jumlah hari dalam bulan Zulkaidah menjadi 30 hari. Sehingga 1 Dzulhijah baru jatuh pada Jumat, 26 September. Itu artinya Idul Adha (10 Dzulhijah) jatuh pada Ahad (5/10), dan puasa Arafah jatuh pada Sabtu (4/10).

Sementara itu, Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama, seperti yang dikutip dari NU Online , menyelenggarakan rukyatul hilal atau observasi bulan sabit di sejumlah titik strategis di Indonesia untuk penentuan awal bulan Dzulhijjah 1435 H pada Rabu (24/9) petang bertepatan dengan tanggal 29 Dzulqa’dah.

Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazali Masroeri mengatakan, pihaknya telah mengaktifkan pos pelaporan hasil rukyat di kantor PBNU Jakarta Pusat dan menyebarkan nomor-nomor kontak informasi kepada para pengurus Lajnah Falakiyah di sejumlah daerah.

Data hasil hisab awal Dzuhijjah 1325 H yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah untuk markaz Jakarta menunjukkan ijtima’ atau konjungsi baru terjadi pada Rabu 24 September 2014 pukul 13.24 WIB, sementara tinggi hilal pada saat matahari tenggelam baru mencapai 0 derajat 27 menit di atas ufuk.






Sumber :
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,54692-lang,id-c,nasional-t,Rukyatul+Hilal+Rabu+Petang++Idul+Adha+Berpotesi+Beda-.phpx
http://www.iberita.com/47737/idul-adha-2014-puasa-arafah-9-dzulhijjah-1435-h-keputusan-pelaksanaan-jatuh-hari

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar